SERANG, – Ketua DPRD Provinsi Banten bersama Penjabat (Pj) Gubernur Banten Al Muktabar bersama Masyarakat Adat Baduy melaksanakan Seba di Gedung Negara Provinsi Banten Jl Brigjen KH Tb Syam’un No 5 Kota Serang, Sabtu (18/4/2024) malam.
Sebanyak 1500 Masyarakat Adat Baduy mengikuti tradisi Seba yang kali ini merupakan Seba Alit.
Dalam kesempatan itu, Ketua DPRD Provinsi Banten Andra Soni mengatakan, seba baduy ini merupakan harmonisasi antara rakyat dengan pemimpinnya.
Menurutnya, Seba Baduy merupakan simbol-simbol yang ditunjukan oleh warga baduy bagaimana mereka taat dan patuh kepada pemimpinnya serta bagaimana pemimpin juga harus bisa melayani rakyat seperti rakyat menghormati dan patuh kepada pemimpinnya.
“Alhamdulillah direspon oleh DPRD Banten melalui perda pemajuan kebudayaan, kita mengapresiasi pada pemerintah Priovinsi Banten dari tahun ketahun pelaksanaan seba baduy terus dimaksimalkan dan kemudian disebar luaskan informasinya kepada masyarakat karena ini adalah kearifan lokal yang tidak semua daerah punya,” tuturnya.
Andra Soni berpesan, agar masyarakat Banten terus menjaga budaya baduy yang sangat taat kepada leluhur serta petuah-petuah dari leluhurnya yang patut dijaga dalam rangka melestarikan alam.
“Tentu bagaimana mereka bisa menjadi rakyat yang patuh kepada pemerintah dan ini sebuah contoh kepada kita semua bahwa patuh dan taat itu salah satu jalan menuju kemakmuran,” ujarnya
Andra Soni berharap, pelaksanaan seba baduy terus di optimalkan kemudian menjadi salah satu keunggulan wisata budaya di Provinsi Banten.
“Insyallah teman-teman dari komisi V itu akan mendorong dinas terkait untuk memaksimalkan kegiatan serba baduy, karena seba baduy ini setiap tahun dilaksanakan tapi skalanya berbeda beda itu ditentukan oleh warga baduy sendiri, contoh tahun lalu seba besar dan tahun ini seba kecil,” pungkasnya.
Sementara itu, Al Muktabar sebagai Bapak Gede Masyarakat Adat Baduy titip tumbuh kembang anak-anak Masyarakat Adat Baduy agar dijaga tidak terkena stunting.
“Saya menitipkan anak-anak jangan sampai terkena stunting. Bila perlu dukungan, Pemerintah Provinsi Banten siap hadir,” ucapnya.
Al Muktabar juga berpesan agar para generasi muda dibina dan diberikan kesempatan untuk tampil ke depan.
Dalam kesempatan itu, diterimanya bawaan laksa oleh Bapak Gede Al Muktabar sebagai simbol penerimaan terhadap Masyarakat Adat Baduy yang melakukan Seba Kecil. Sebaliknya, Al Muktabar memberikan bingkisan kepada Masyarakat Adat Baduy.
“Semoga para puun, para jaro, dan warga Masyarakat Adat Baduy diberikan kesehatan. Dalam kehidupan gemah ripah loh jinawi,” ungkapnya.
Masih menurut Al Muktabar, Seba sebagai bagian yang diyakini dalam tatanan kehidupan sehari-hari Masyarakat Adat Baduy. Masyarakat dari lima desa hadir melaksanakan Seba. Menjadi salah satu modal dasar pembangunan.
“Menandakan terjadi harmoni yang baik di Masyarakat Adat Baduy,” ucapnya.
“Hasil-hasil Bumi yang disampaikan sebagai simbol kesejahteraan Masyarakat Adat Baduy,” tambah Al Muktabar.
Dirinya juga mengapresiasi Masyarakat Adat Baduy yang berhasil dalam merawat dan menjalin harmoni dengan alam dan masyarakat.
“Apresiasi kepada Masyarakat Adat Baduy yang damai aman tenteram. Stabilitas terjaga dengan baik. Terima kasih atas kebersamaan kita dalam situasi aman dan damai,” ucapnya.
Al Muktabar juga mempersilahkan Masyarakat Adat Baduy untuk memanfaatkan fasilitas yang telah disediakan. Termasuk menikmati Wayang Golek oleh dalang Mursidi Ajen dengan lakon Astrajingga Jadi Raja.
Dalam kesempatan itu, Kepala Desa Kanekes Saija yang merupakan Jaro Pemerintah Masyarakat Adat Baduy mengatakan Seba tahun ini sebanyak 1500 Masyarakat Adat Baduy datang dari Kanekes.
“Mohon maaf bila ada kata-kata dari masyarakat kami yang kurang berkenan,” ungkapnya.
“Mohon doanya semoga masyarakat selamat,” pungkasnya.
Dalam laporannya, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Banten Tabrani mengatakan, Seba Baduy selalu meninggalkan kesan dan cerita berbeda.
“Pelaksanaan Seba Baduy tidak selalu sama karena Masyarakat Adat Baduy punya kalender sendiri. Juga menunggu petunjuk sesuai tatanan adat dari leluhurnya,” jelasnya.
Sebagai informasi Seba Gede dan Seba Alit ditentukan sendiri oleh Masyarakat Adat Baduy yang ditandai dengan bawaannya. Pada Seba Gede, Masyarakat Adat Baduy membawa bawaan laksa, hasil bumi, dan peralatan dapur. Sedangkan pada Seba Alit, Masyarakat Adat Baduy tidak membawa peralatan dapur.
(Yn/Ags/bidinfopub&dok)
